Gallery

Kisah persahabatan mengharukan : Kisah Taubat si Manusia Tembok


Kisah Taubat Manusia Tembok
 Oleh : Martunis Hamka


Jingga menyusup celah-celah dedaunan. semilir angin menghembus mesra membelai ubun-ubun. Burung-burung riuh membincangkan pesona semesta. Semua ciptaan berbahagia, namun tidak denganku. Ada segemelut rasa membuncah dalam dada.

“Hei, kamu seperti perempuan saja. Sudahlah, hapus air matamu,” ucap si kacamata coba menghiburku, meski wajahnya sendiri tidak terlihat begitu ceria. Tentu saja dia merasakan kesedihan yang sama. Bagaimana tidak, ini lebih haru dari suasana rumah duka.
 “Kamu tahu, aku tidak menangisi perpisahan ini, Karena perpisahan adalah wajar dari sebuah pertemuan. Yang aku tangisi, jika nanti tidak kudapati seseorang sepertimu lagi ketika hatiku kembali tertimbun maksiat, siapa yang akan menegurku, Ris“ ucapku lirih.
“Allah yang akan menegurmu. Ketahuilah Allah telah mengganti hatimu dengan sepotong hati yang baru, putih, lagi bersih. Jangan kamu kotori lagi ia, insya Allah aku akan kembali untuk menjengukmu,” ucapnya seraya menepuk bahuku. Kulihat ada senyum dibibirnya. Ah bukan, itu bukan senyum kebahagiaan. Itu hanya usahanya untuk meneguhkanku. Tapi Allah... aku tidak sekuat dia, tetap saja aku rapuh.
Tidak kulihat sebulir air mata pun yang membasahi pipinya. Aku mengerti sekali, aku mengerti bagaimana seorang ayah tidak mengatakan lelah pada anak-anaknya, meskipun keringat bercucuran. Begitulah sahabatkuHaris yang tak pernah memperlihatkan kesedihan, meskipun air mata sudah terbendung hebat dipelupuk matanya.
 “Ya sudah, aku do’akan kamu baik-baik saja disana. Do’akan juga semoga Allah biarkan imanku baik-baik saja,” ucapku lirih seraya kuseka air mata. Kubalas senyumnya dengan senyum getir.

“Thup,” terdengar suara pintu mobil ditutup. Beberapa saat kemudian mobil melaju perlahan dan terus menjauh. Dari kejauhan kulihat perlahan jendela mobil diturunkan, ada lambaian tangan disana. Ya Allah... dia benar-benar pergi. 
Kucatat rapi cerita yang mengharu biru itu. Bukan, itu bukan cerita perpisahan sepasang kekasih, Melainkan cerita dua anak adam yang dulunya bersama karena Allah dan berpisah juga karena Allah.

                                                                                                ***

Aku ingin menjadi ahli komputer, aku ingin menjadi ahli kimia, arkeolog, aku juga ingin menjadi ahli sejarah! Itulah cita-citaku sepuluh tahun silam, ketika aku duduk di bangku SMA. Benar-benar impian yang sangat-sangat rumit. Satu sama lain tidak ada yang melebihi. Bagaimana aku bisa menekuni setiap bidang yang sama sekali tidak berkaitan itu? Pun tidak ada sekolah tinggi yang menyediakan setiap bidangnya dalam sepaket. Masa bodoh, yang terpenting aku harus melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya. Tak peduli nanti aku akan jadi apa! Ahli bahasa kah? Ahli Sejarahkah? Atau bahkan seorang guru sekalipun.

“Assalamualaikum, hei sepertinya kamu akur sekali dengan computer mini-mu [read;laptop] itu,” sapa si kacamata akrab. Kedatangannya yang tiba-tiba itu mengagetkanku. Dengan sigap dia duduk di kursi yang berada tepat di depanku, ada senyum sumringah diwajahnya.
 “Wa’alaikumsalam, hemm iya,” jawabku ringkas. Wajahku tak seramah dia. Adalah kebiasaan burukku yang tidak mau berbicara banyak, apalagi dengan orang yang baru aku kenal.
Beberapa saat suasana hening.
“Oh iya! kenalkan, namaku Haris,” ucapnya berusaha memecah keheningan. Aku hanya mengernyitkan kening pertanda tidak membutuhkan keramah-tamahannya itu. “Tak apa. Aku sudah tahu siapa namamu kok, Martunis. Hemm nama yang bagus,” Sambungnya mencoba mencairkan suasana.
“Ya, kakek yang menamaiku,” ucapku datar dengan jemari yang terus thap-thip-thup pada papan ketik. Ketika itu benda mati yang ada di sekelilingku sama saja dengannya. Aku tidak suka diusik, tidak suka diajak bicara, apalagi bermuka manis. Jika jam istirahat tiba, aku lebih memilih menghabiskan waktu dikelas sambil mengutak-atik seperangkat komputer mini. Lupa membawa mesin itu artinya lupa membawa teman. Juga kulenyapkan jam istirahat dengan menulis. Aku gemar sekali menulis, dan aku adalah penulis paling bengis sepanjang sejarah. Tulisanku juga tidak ramah, sama sepertiku.
Saban hari, Haris tak pernah alpa mencoba menepis kawan sepiku. Masih dengan rona wajah yang sama, senyum yang sama, dan keceriaan yang sama. Dan Haris adalah orang pertama yang tiada bosan melebur senyum cerianya pada manusia tembok sepertiku. Awalnya aku merasa terusik, namun sekeras-kerasnya batu tetap mampu diluluhkan hujan. Apalagi aku, hatiku tidak sekeras batu. Haris adalah tetesan bening dari langit yang tiada bosan-bosannya mengukir seburat keindahan dan kesejukan dihatiku. Dan dia berhasil! Sungguh, Dia berhasil mengukir keindahan itu.

Hari berganti, hubungan kami semakin dekat. Hingga kami berteman. Ah bukan, kami bersahabat. Terjalin begitu indah, sungguh!. Aku tidak lagi menyenangi seperangkat mesin yang sering menghabiskan waktuku. Aku tidak lagi merindui kesepian ruang kelasku. Bahkan rasanya ingin kujual saja semua benda mati itu, dan kubeli si kacamata itu sebagai gantinya. Ya, aku menemukan sesuatu darinya. Aku menemukan diriku telah hidup. Tak tahu bagaimana proses yang terjadi, yang aku tahu dihatiku ada sesuatu yang begitu lembut. Pantas saja dulu mereka enggan menyapaku, apalagi berteman. Buat apa? aku mati, kaku, bengis, egois, sombong, aku bukan manusia! Haris begitu baik denganku. Ah bukan! bahkan dia baik dengan semua orang, shaleh, dan berjiwa besar. Yang membuat aku semakin tertegun setelah mengetahui ternyata dia juga seorang penulis, bahkan di tingkat handal. Tentunya bukan penulis sekaku dan sebengisku. Juga kemampuannya dibidang komputer jauh lebih baik dari kemampuanku. Semahir itu tentu butuh perhatian khusus untuk berlatih. Yang luar biasanya, dia sama sekali tidak meluputkan sosialnya, dia punya banyak teman. Setiap hubungan persaudaraan yang ia bina dijaganya dengan sungguh-sungguh. Tiang agama juga ia kukuhkan. Hal inilah yang membuatku sering menilik diri. Oh betapa tidak bergunanya aku! Tak lebih baik dari se-unit mesin yang sering aku tatap mata lebarnya itu.

Kusiapkan secarik lembaran baru yang akan kutuliskan betapa hidup itu harus bahagia dan bermakna. Hidup harus bersumber pada nyawa yang perasa, hanya mesin yang bahagia pada kekakuannya. Kubalik layar yang sempat salah arah, kucari mata angin yang akan membimbing perahu layarku pada kehidupan yang semestinya, ku kukuhkan pilar agamaku, kuhempaskan segala keburukan diri. Ingin rasanya kukejar manusia-manusia itu dan kukatakan "aku telah hidup...!" Kutawarkan mereka-mereka senyum pertemanan. semua itu bukan tanpa alasan, semua terjadi karena megahnya ajaran tuhanku. Telah sampailah kemegahan itu kepadaku melalui sahabatku, Haris. Arkeolog, ahli komputer, ahli sejarah, semua keinginan besar itu sirna begitu saja bagai butiran debu yang disapu angin, namun sapuannya begitu lembut, hingga aku begitu menikmatinya. Sejak saat itu, aku hanya menekuni dunia kepenulisan saja. Tentunya bukan penulis sekaku dan sebengis dulu. Dan syukur sekali, tulisanku diminati banyak pembaca, mungkin karena saratnya nasehat-nasehat agama yang kutuangkan. Pun itulah himmah tertinggiku saat itu, biarlah aku memetik manfaat dari apa yang aku tulis, kendatipun kelak aku sudah tiada.

***

“abi ... nanti jangan lupa ole-olenya ya.”

“ iya sayang, nanti mau abi belikan apa ni?”

“buku gambar sama mukena, soalnya mukena Syifa yang lama sudah jelek bi.”

“hemm, baiklah. Tapi ada syaratnya, Syifa mesti cium abi dulu.”

“iya bi ... emmahh Syifa sayang abi karena Allah,” ucapnya sambil tersenyum sipu. Seketika aku bergeming, ada seburat keharuan di wajahku. Bahagia karena bisa mendidiknya dengan kebaikan agama. Kuseka air mata yang sempat menetes.
“hemm, iya sayang abi juga sayang Syifa karena Allah. O iya, itu umi sudah siap mengantarkan Syifa,” sambil ku isyarati dengan mata ke arah seorang wanita berkerudung indah yang sedang menghampiri kami.

“Boleh aku pergi duluan, bang? takut nanti Syifa terlambat kesekolahnya,” ucap wanita itu lembut.
“Iya, boleh dik. Kamu hati-hati dijalan ya.”

"Oh iya bang, Nanti jam 10 ada majelis ta'lim khusus akhwat, di mesjid. rencana aku akan menghadirinya, itupun kalau abang mengizinkan,” Ucapnya santun.
Subhanallah, wajahnya yang sejuk sungguh begitu indah ketika dihiasa untaian santun lisannya. Benar-benar indah bidadari dunia ini. Bahagia sekali bisa memperistrinya.

“Boleh dik, kamu boleh ikut.”

”Terima kasih bang. Ya sudah, abang juga hati-hati dijalan ya, assalamualaikum" ucapnya, seraya mencium tanganku dengan ketaatan yang sungguh.

Beberapa setelah mereka pergi ....

“maaf pak ustadz, ada surat untuk pak ustadz ,” ucap bik inah seraya menyerahkan sepucuk amplop.
“oh iya, terima kasih ya bik.“ Tertera kode area negeri mesir pada amplop itu.
 “ini AULIA, ternyata kau masih sempat membalas suratku,” Gumamku haru. Ada kesenduan diwajahku. Dengan cepat kubuka amplop itu. Kudapati dua pucuk surat di dalamnya. Kubukalah surat yang pertama dengan perlahan.

Assalamualaikum saudaraku seiman, Martunis

Semoga imanmu senantiasa diteguhkan oleh yang maha kuasa. Maaf karena aku bukanlah orang yang kamu duga, dan bukan yang kamu ingini namaku tertera dipenghujung surat ini. Aku adalah mewakili sahabatmu ”Haris”, sekaligus menyampaikan amanah yang telah beliau bebankan kepadaku...
Sampai di situ aku tertegun. Kutatap kosong hamparan halaman rumah. “Ya Allah, apa Haris sedang sakit,” ucapku lirih. Aku begitu cemas, gelisah, khawatir kalau sakitnya parah. Kemudian aku lanjutkan membaca,
Saudaraku, sahabatmu dan juga sahabat yang telah mengubah jalan hidupku ini, ia sudah tiada ..., Haris telah membingkai kenangan indah dan meninggalkannya untuk kita. Ketahuilah, amal baik yang kita lakukan akan menjadi penolongnya disana. Di dalam amplop ini ada sepucuk surat lagi yang beliau titip pesankan padaku, agar hendaknya aku sampaikan kepadamu. Surat itu beliau tulis beberapa hari yang lalu ketika sakit beliau semakin parah. Semoga Allah meneguhkanmu dan juga aku. Amin

Wassalam, saudaramu Aziz maulana
Cairo,22 syawal 1430 H

Seketika surat terjatuh, aku ambruk, Tertegun, terdiam, dan pandanganku kembali kosong. Tapi kali ini ada luapan bening disana, mengalir begitu derasnya. Seakan ada seribu sembilu yang mengiris. Aku rapuh, tentu lebih rapuh dari ketika Haris menitipkanku pada Allah, Ketika ia menimba ilmu ke kairo. Beberapa saat aku tidak mampu berbicara. Untuk berteriak pun aku tidak bisa. Hanya ada air mata yang terus bercucuran. Seperti ada sebongkah batu yang begitu menyesakkan dada. “ya Allah ... kuatkan, kuatkan hamba ya Allah,” isakan tangis seakan bernyawa yang ikut menggores sejuta kepiluan.

Kuraih surat yang kedua dengan air mata yang terus bertumpahan. Perlahan kubuka, tanganku gemetar karena kepiluan yang mencabik.

Assalamualaikum sahabat tercinta karena Allah, Martunis.
Semoga Allah senantiasa selamatkan imanmu dan imanku juga dan semoga engkau masih banyak teman disana. Ah, tidak bisa kubayangkan jika kamu terus menjadikan kursi dan ruang kosong sebagai temanmu. Oh iya, semua surat yang kamu layangkan aku simpan rapi, bahkan dihatiku juga. Dan maaf, karena hanya satu dari sekian suratmu terbalaskan. Tentu kamu tahu alasannya, aku tidak suka jika kamu tersedu-sedu seperti perempuan, kamu jelek sekali. Tapi kali ini aku benar-benar harus mengabarimu. Ketahuilah, aku sungguh merindukanmu. terlalu bodoh jika aku melupakan keindahan alur cerita kita. Oh iya ... Aku selalu mengikuti tausiyahmu ditelevisi, juga kubeli semua buku-bukumu, aku begitu gemar. pesanku jadilah pendakwah yang selalu mendakwah diri sendiri.
Aku sudah menikah dan dianugerahkan seorang putra, kunamai ia Martunis, sama seperti namamu. Terima kasih untuk kakekmu atas nama yang indah itu. Dan di usiamu ini, tidak perlu lagi aku tanyakan apa kamu sudah mengakhiri shaummu ataukah belum. Semoga Allah memberkahi keluargamu, juga keluargaku. Ketahuilah wahai sahabatku! kita berjumpa dan berpisah adalah karena Allah, kendatipun itu berpisah untuk selamanya, karena ajal itu pasti.
Wasalam sahabatmu Haris
Cairo, 14 syawal 1430 H

Kesedihanku memuncak, bahkan untuk terisakpun aku sudah tidak kuasa. Ya Rabbi ... ternyata seperti ini rasanya kehilangan. Tuhanku! Catatlah ini dalam amalanku yang kanan. sungguh dulu kami berkumpul dan berpisah karenamu, dan sekarang aku menangis juga karenamu Tuhan, maka ajarkan aku ketabahan. Kutitipkan kerinduanku untuknya dalam do'a.

                                                                                               
SEKIAN!
Kilas Tokoh:
·         Martunis (Tokoh Utama dalam kisah diatas) adalah penulis sendiri, ia seorang santri yang saat ini sedang menuntut ilmu agama di Pesantren Ar-raudhatul Awwaliyyah, Woyla, Aceh Barat.
·         Haris (Tokoh Kedua, nama samaran) adalah Seorang Mahasiswa yang saat ini sedang mengenyam pendidikan di UIN SUMUT, Jurusan Hukum Syariah.


Note: Cerita Ini berdasarkan kisah nyata, terkecuali beberapa alur yang dibuat sedemikian rupa agar cerita lebih menarik, termasuk scene meninggalnya tuah aulia. J semoga bermanfaat

2 Responses to "Kisah persahabatan mengharukan : Kisah Taubat si Manusia Tembok"

wdcfawqafwef